Di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus,hingga kini ada tradisi
Nganten Mubeng di Masjid Wali. Tradisi ini mewajibkan para pengantin
baru melewati pintu Barat dan Timur masjid yang berupa gapura klasik
batu bata merah bercorak Hindu sebagai prosesi ijab qobul. Pada masa
itu, karena banyaknya yang menikah, untuk mempersingkat waktu maka Tjie
Wie Gwan berpetuah pada para pengantin yang telah sah, mengelilingi
gapura lalu akan di doakan dari depan Masjid dan disaksikan oleh warga
setempat. Tradisi Nganten Mubeng tersebut merupakan upaya mengingatkan
dan mendekatkan cikal bakal keluarga baru agar selalu dekat dengan
Allah. Tradisi yang menjadi ciri khas umat Islam yang tinggal di sekitar
Masjid Wali, tidak terlepas dari sejarah Masjid Wali atau At-Taqwa.
Masjid yang terletak sekitar dua kilometer dari Jalan Raya
Kudus-Semarang, didirikan pada 1596-1597 pada masa peralihan
Hindu-Buddha ke Islam. Masjid ini dibangun Tjie Wie Gwan, seorang
pengembara Muslim dari Campa, China, yang mendarat di Jepara semasa
pemerintahan Ratu Kalinyamat.
Waktu itu, Jepara masih di bawah Kerajaan Demak. Seiring berjalannya
waktu, Wie Gwan yang menjadi orang kepercayaan Sultan Hadirin (suami
Ratu Kalinyamat), dipercaya menyebarkan agama Islam di Kudus. Bersama
Sultan Hadirin yang juga menantu Sunan Kudus, Wie Gwan membuat masjid
dengan gapura menyerupai pura di Bali. Bangunan masjid yang terbuat dari
kayu jati, dilengkapi menara, sumur tempat wudlu, dan beduk. Berkat
jasanya tersebut, Ratu Kalinyamat menganugerahi Wie Gwan nama baru,
Sungging Badar Duwung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar